"MANA ADA HANTU DI DUNIA INI ???"
KENDARI, 17 FEBRUARI 2015
Hari ini adalah hari saya(La Arsan), Aswar, Dimas, dan Ciko buat mengerjakan kerja
kelompok prakarya di rumahku. Dengan mengendarai sepeda motor supra ganas cap
bebek, Aswar dan Dimas tiba di rumahku dengan badan yang luka-luka dan penuh
goresan di kulit mereka. Katanya sih mereka berdua habis kecelakaan di depan SD
5 Kendari, yang dimana jalan tersebut masih dalam perbaikan. Dalam hati kecilku
sih berkata bahwa sepertinya ini pertanda buruk. “eh, kalian kenapa badannya
luka-luka” Tanya ku kepada mereka berdua. “ooh, ini tadi gue kecelakaan di
depan SD 5 Kendari” jawab Aswar. “Perasaan gue nggak enak nih, sepertinya
sebentar kita bakal ngalamin masalah nih..” Ungkap ku. “Wuss, jangan asal cakap
lu, entar sial beneran” Jawab Dimas dengan perasaan sedikit marah. Beberapa
menit kemudian datanglah Apriansya (Ciko) yang diantar sama ayahnya dengan
Mobil Galardo Pete-Pete milik ayahnya.
Pukul 13:00 kulihat di jam tanganku. “Eh, alat-alatnya sudah siap,
tinggal kita mencari daun mangga dan kulit jagung nih yang kurang” kata
Apriansyah. “Yaudah, kita ke gunung Wawondara yuk, disana banyak banget Mangga
dan Jagung” Ungkapku “Dimana tuh gunung Wawondara? Jauh nggak?” Tanya Dimas
“Nggak kok, nggak jauh, cuman 50 meter dari sini. Yang membuat jauh tuh
mendakinya” Jawabku “Yaudah, gairah mendaki dalam diriku sudah mulai mengalir,
yuk kita let’s go” Kata Aswar dengan semangat. Dengan peralatan minim,
kita pun pergi menuju ke gunung Wawondara, namun ketika hampir sampai di gunung
wawondara, saya teringat pesan Ibuku yang berkata “jangan kamu pergi ke
gunung Wawondara Nak, Disana itu keramat. Pernah ada pembunuhan disana dan
mayatnya mungkin masih ada disana”. Sehingga saya pun memberitahukan kepada
anggota kelompokku “Hei guys, gue baru ingat bahwa gunung Wawondara ini keramat
cooy” kataku sambil merinding. “Ah.. Lu ngawur, palingan itu cuman mitos Orang
tua buat melarang anaknya naik nih gunung” Kata Aswar dengan sombongnya. Tanpa
memperdulikan nasehat ibuku, saya langsung naik ke gunung wawondara.
Setengah
Jam setelah meninggalkan rumahku, kami sudah berada di pertengahan puncak gunung Wawondara. “Woi san, dimana Jagung dan Mangganya ? katanya banyak?”
Tanya Dimas “Sedikit lagi, yuk jangan lelah, kita harus bersemangat!” jawab
dengan memberi semangat team. Kami dengan sedikit kelelahan karena mendaki,
beristirahat dahulu di salah satu pondok-pondok yang tidak diketahui milik
siapa dan siapa yang membangunnya di gunung. “eh.. itu disana ada pondok, yuk
kita kesana” kata Apriansyah sambil menunjuk ke pondok “Alhamdulillah ada
tempat beristirahat juga” Ungkap Aswar. Lima belas menit kami beristirahat, tiba-tiba
si Apriansyah mendadak menggigil dan badannya dingin seperti es. Kami pun
bingung harus bagaimana, akhirnya kami sepakat buat membagi kelompok yang akan
mencari jagung dan mangga dan yang akan menjaga Apriansyah. Saya dan Aswar
bertindak sebagai pencari bahan, sedangkan Dimas menjaga Apriansyah di pondok
milik orang tak diketahui. Saya dan Aswar mulai berjalan kira-kira 20 meter,
tiba-tiba muncul lagi masalah, yaitu si Dimas berteriak histeris dan berkata
bahwa dia baru saja melihat secara tiba-tiba sosok pria dengan pakaian serba
hitam dan membawa parang di tangannya. Saya dan Aswar mulai takut, tapi karena
jiwa kami yang berani, akhirnya kami tetap berjalan mencari bahan. Tak jauh
dari pondok, akhirnya kami menemukan pohon mangga dan pohon jagung, kemudian
kami berdua pun mencabuti kulit jagung tua yang sudah jatuh di tanah dan
memungut daun daun mangga yang berserakan dibawah pohon mangga tersebut.
Setelah mengumpulkan kulit jagung dan daun mangga, kami beristirahat di bawah
pohon mangga tersebut sambil menikmati mangga yang telah dipanjat oleh Aswar
sebelumnya, namun ketika kami hendak memakan buah mangga tersebut tiba-tiba
terdengar bunyi “JANGAN DIMAKAN”, begitu bunyi suaranya. Saya pun
bertanya kepada Aswar “hei Aswar, kamu dengar tidak suara itu ?” tanyaku kepada
Aswar “tidak, emangnya bunyi apa? Palingan bunyi nyamuk yang gigit wajahmu”
jawab Aswar dengan tidak serius. Aswar yang tetap saja memakan buah mangga
tersebut dengan rakusnya, tiba-tiba ia mendadak sakit perut dan ia terjatuh
dari gunung dengan terguling-guling menghantam pepohonan di gunung tersebut.
Saya yang kaget, langsung saja pergi menolong Aswar, dan membawanya ke tempat
Dimas dan Ciko. Namun di tempat tersebut, mereka berdua telah tiada. Pikirku,
mereka sudah balik kerumahku. “waduh… kemana nih si Dimas dan Ciko ?” kaget
aku. “Mungkin sudah balik kerumahmu !” ungkap Aswar dengan suara pelan.
“mungkin juga sih, yuk kita pulang!” kataku.
Tiga
puluh menit saya berjalan, sambil memegang Aswar yang kakinya sakit, kamipun
tiba dirumahku. Namun yang kami kagetkan, Dimas dan Ciko tak ada di rumahku,
bahkan motor Dimas yang diparkir di depan rumahku, masih ada. Kami berdua pun
bingung harus mencari mereka dimana, dan saya menyuruh Aswar agar beristirahat
terlebih dahulu di rumahku, biarkan saya sendiri yang akan mencari Dimas dan
Ciko. “War, kau dirumahku saja, kakimukan sakit, biar aku yang mencari Dimas
dan Ciko” ungkap saya. “makasih yah Arsan” kata Aswar. Kemudian saya pun
kembali pergi ke gunung Wawondara sambil berlari. Namun, belum sampai di kaki
gunung, saya dipanggil oleh seseorang “WOOI ARSAN, DISINI” kata orang tersebut.
Saya pun berbalik kebelakang, dan ternyata Dimas dan Ciko yang memanggil saya,
mereka sedang berada di salah satu rumah seorang petani. “kalian ini, saya kira
kalian dimakan sama hantu” ungkapku “waah, mana ada hantu!, ini nih, saya
antarain si Ciko buat buang air besar dan saya ketemu sama bapak-bapak petani
yang berbaju serba hitam dan mengantar kami di rumahnya agar si Ciko bisa buang
air besar” kata Dimas. “Hahahahaha” ketawa saya. Akhirnya, kami bisa kembali ke
rumahku dan menyelesaikan tugas prakarya kami.
SELESAI