Senin, 05 Oktober 2015

CERPEN KOMEDI YANG PENUH DENGAN TEKA TEKI

   "MANA ADA HANTU DI DUNIA INI ???"

KENDARI, 17 FEBRUARI 2015
      Hari ini adalah hari saya(La Arsan), Aswar, Dimas, dan Ciko buat mengerjakan kerja kelompok prakarya di rumahku. Dengan mengendarai sepeda motor supra ganas cap bebek, Aswar dan Dimas tiba di rumahku dengan badan yang luka-luka dan penuh goresan di kulit mereka. Katanya sih mereka berdua habis kecelakaan di depan SD 5 Kendari, yang dimana jalan tersebut masih dalam perbaikan. Dalam hati kecilku sih berkata bahwa sepertinya ini pertanda buruk. “eh, kalian kenapa badannya luka-luka” Tanya ku kepada mereka berdua. “ooh, ini tadi gue kecelakaan di depan SD 5 Kendari” jawab Aswar. “Perasaan gue nggak enak nih, sepertinya sebentar kita bakal ngalamin masalah nih..” Ungkap ku. “Wuss, jangan asal cakap lu, entar sial beneran” Jawab Dimas dengan perasaan sedikit marah. Beberapa menit kemudian datanglah Apriansya (Ciko) yang diantar sama ayahnya dengan Mobil Galardo Pete-Pete milik ayahnya.
Pukul 13:00 kulihat di jam tanganku. “Eh, alat-alatnya sudah siap, tinggal kita mencari daun mangga dan kulit jagung nih yang kurang” kata Apriansyah. “Yaudah, kita ke gunung Wawondara yuk, disana banyak banget Mangga dan Jagung” Ungkapku “Dimana tuh gunung Wawondara? Jauh nggak?” Tanya Dimas “Nggak kok, nggak jauh, cuman 50 meter dari sini. Yang membuat jauh tuh mendakinya” Jawabku “Yaudah, gairah mendaki dalam diriku sudah mulai mengalir, yuk kita let’s go” Kata Aswar dengan semangat. Dengan peralatan minim, kita pun pergi menuju ke gunung Wawondara, namun ketika hampir sampai di gunung wawondara, saya teringat pesan Ibuku yang berkata “jangan kamu pergi ke gunung Wawondara Nak, Disana itu keramat. Pernah ada pembunuhan disana dan mayatnya mungkin masih ada disana”. Sehingga saya pun memberitahukan kepada anggota kelompokku “Hei guys, gue baru ingat bahwa gunung Wawondara ini keramat cooy” kataku sambil merinding. “Ah.. Lu ngawur, palingan itu cuman mitos Orang tua buat melarang anaknya naik nih gunung” Kata Aswar dengan sombongnya. Tanpa memperdulikan nasehat ibuku, saya langsung naik ke gunung wawondara.
          Setengah Jam setelah meninggalkan rumahku, kami sudah berada di pertengahan puncak        gunung Wawondara. “Woi san, dimana Jagung dan Mangganya ? katanya banyak?” Tanya Dimas “Sedikit lagi, yuk jangan lelah, kita harus bersemangat!” jawab dengan memberi semangat team. Kami dengan sedikit kelelahan karena mendaki, beristirahat dahulu di salah satu pondok-pondok yang tidak diketahui milik siapa dan siapa yang membangunnya di gunung. “eh.. itu disana ada pondok, yuk kita kesana” kata Apriansyah sambil menunjuk ke pondok “Alhamdulillah ada tempat beristirahat juga” Ungkap Aswar. Lima belas menit kami beristirahat, tiba-tiba si Apriansyah mendadak menggigil dan badannya dingin seperti es. Kami pun bingung harus bagaimana, akhirnya kami sepakat buat membagi kelompok yang akan mencari jagung dan mangga dan yang akan menjaga Apriansyah. Saya dan Aswar bertindak sebagai pencari bahan, sedangkan Dimas menjaga Apriansyah di pondok milik orang tak diketahui. Saya dan Aswar mulai berjalan kira-kira 20 meter, tiba-tiba muncul lagi masalah, yaitu si Dimas berteriak histeris dan berkata bahwa dia baru saja melihat secara tiba-tiba sosok pria dengan pakaian serba hitam dan membawa parang di tangannya. Saya dan Aswar mulai takut, tapi karena jiwa kami yang berani, akhirnya kami tetap berjalan mencari bahan. Tak jauh dari pondok, akhirnya kami menemukan pohon mangga dan pohon jagung, kemudian kami berdua pun mencabuti kulit jagung tua yang sudah jatuh di tanah dan memungut daun daun mangga yang berserakan dibawah pohon mangga tersebut. Setelah mengumpulkan kulit jagung dan daun mangga, kami beristirahat di bawah pohon mangga tersebut sambil menikmati mangga yang telah dipanjat oleh Aswar sebelumnya, namun ketika kami hendak memakan buah mangga tersebut tiba-tiba terdengar bunyi “JANGAN DIMAKAN”, begitu bunyi suaranya. Saya pun bertanya kepada Aswar “hei Aswar, kamu dengar tidak suara itu ?” tanyaku kepada Aswar “tidak, emangnya bunyi apa? Palingan bunyi nyamuk yang gigit wajahmu” jawab Aswar dengan tidak serius. Aswar yang tetap saja memakan buah mangga tersebut dengan rakusnya, tiba-tiba ia mendadak sakit perut dan ia terjatuh dari gunung dengan terguling-guling menghantam pepohonan di gunung tersebut. Saya yang kaget, langsung saja pergi menolong Aswar, dan membawanya ke tempat Dimas dan Ciko. Namun di tempat tersebut, mereka berdua telah tiada. Pikirku, mereka sudah balik kerumahku. “waduh… kemana nih si Dimas dan Ciko ?” kaget aku. “Mungkin sudah balik kerumahmu !” ungkap Aswar dengan suara pelan. “mungkin juga sih, yuk kita pulang!” kataku.
            Tiga puluh menit saya berjalan, sambil memegang Aswar yang kakinya sakit, kamipun tiba dirumahku. Namun yang kami kagetkan, Dimas dan Ciko tak ada di rumahku, bahkan motor Dimas yang diparkir di depan rumahku, masih ada. Kami berdua pun bingung harus mencari mereka dimana, dan saya menyuruh Aswar agar beristirahat terlebih dahulu di rumahku, biarkan saya sendiri yang akan mencari Dimas dan Ciko. “War, kau dirumahku saja, kakimukan sakit, biar aku yang mencari Dimas dan Ciko” ungkap saya. “makasih yah Arsan” kata Aswar. Kemudian saya pun kembali pergi ke gunung Wawondara sambil berlari. Namun, belum sampai di kaki gunung, saya dipanggil oleh seseorang “WOOI ARSAN, DISINI” kata orang tersebut. Saya pun berbalik kebelakang, dan ternyata Dimas dan Ciko yang memanggil saya, mereka sedang berada di salah satu rumah seorang petani. “kalian ini, saya kira kalian dimakan sama hantu” ungkapku “waah, mana ada hantu!, ini nih, saya antarain si Ciko buat buang air besar dan saya ketemu sama bapak-bapak petani yang berbaju serba hitam dan mengantar kami di rumahnya agar si Ciko bisa buang air besar” kata Dimas. “Hahahahaha” ketawa saya. Akhirnya, kami bisa kembali ke rumahku dan menyelesaikan tugas prakarya kami.


SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar